Posts

Showing posts from September, 2021

Terlatih Patah Hati

 Medan, 23 September 2021 Hari ketiga Isolasi Mandiri. Masih Batuk. Penciuman tidak kunjung berfungsi juga.  Ada banyak hal yang kita inginkan dalam hidup ini. Ada banyak hal yang kita rencanakan. Dan ada banyak hal juga yang kita perjuangkan. Bahkan kita perjuangkan mati-matian. Dalam beberapa konteks, hal-hal tersebut berhasil kita dapatkan. Di lain waktu lagi, hal-hal yang sangat kita inginkan itu tidak pernah kita dapatkan sama sekali. Memang begitulah jalannya. Ada hal-hal yang memang ditakdirkan untuk kita. Ada hal-hal yang memang Allah tidak takdirkan untuk kita. Tak peduli sekeras apapun usaha kita, percuma. Kalau memang tidak ditakdirkan untuk kita.  Di lain kasus, ada pula orang-orang yang membersamai kita bertahun-tahun, berpisah dengan kita. Ibu pergi ketika usiaku belum genap setahun. Jujur, waktu itu aku bahkan tidak sadar kalau ibuku meninggal. Bertahun-tahun mencoba memahami bagaimana rasanya punya ibu kandung, sampai sekarang aku masih gagal. Jadinya, aku...

Covid itu...

Medan, 21 September 2021 Akhirnya resmi menjadi bagian dari 229,8 juta penduduk bumi yang positif terinfeksi Corona. Semoga cukup sampai di sini saja. Tidak menjadi bagian 4,7 juta jiwa yang meninggal gegara Covid ini. Aku tahu semua orang akan meninggal, pada waktunya. Namun, untuk saat ini, Ya Tuhan, jangan dulu. Covid ini menyerang terus. Namun, kemungkinan besar kita terkalahkan ketika sistem pertahanan tubuh kita dalam kurva yang paling rendah. Mungkin itu yang kualami sekarang. Lelah secara fisik dan lelah mental. Datang secara bersamaan. Dan, sudah. Covid menyerang.   Begitu banyak orang-orang yang hidupnya berubah seketika gara-gara Covid ini. Ada yang kehilangan Ayah, ibu, dan orang-orang tersayangnya. Aku mengalaminya, teman-teman terdekat di lingkunganku juga begitu. Maka ketika ada orang yang hari ini masih tidak percaya dengan Covid ini, aku termasuk orang yang tidak bisa untuk tidak mengutuknya. Meskipun sebenarnya lebih baik untuk mendoakannya. Namun, sikapku le...

Amangboru

Kamis, 9 September Amangboru pergi untuk selamanya. Antriannya tiba. Pada dasarnya kita semua memang menunggu antrian kan. Cepat atau lambat akan tiba giliran kita masing-masing.  Sepanjang hidupku, aku belum pernah menemukan pribadi yang lebih baik dari Amangboru ini. Pribadi yang paling ikhlas, seperti namanya. Jujur, dedikasinya.  Bagiku pribadi, Amangboru ini seperti ayah dan juga sebagai guru. Guru dalam hampir semua jenis lini kehidupan dan semua mata pelajaran. Aku masih ingat waktu pertama kali Amangboru mengajariku fisika kelas satu SMP. Kemudian mengajariku Matematika, diagram venn waktu itu. Selebihnya beliau adalah guru fiqih, guru tajwid, guru sejarah islam, guru politik Islam, dan semuanya bagiku.  Kepergiannya tentu meninggalkan duka bagiku dan bagi orang banyak. Namun, aku yakin, Amangboru tentunya sudah di tempat yang Terbaik. 

Jendela

Setelah dua tahun berjuang dan bertahan melawan Corona. Akhirnya dia pun berhasil menyerang dua orang yang paling kulindungi dan kujaga mati-matian dari virus ini. Ironisnya, virus ini datang dari "jendela" yang paling jarang dibuka. Agak susah memahami jalan pikiran orang-orang yang tidak percaya dengan Covid ini. Terutama "jendela" yang sangat jarang terbuka itu.  Agak susah memahami apa yang sedang terjadi ini, di tengah kesedihan dan kepanikan ini.  Ya Allah, Lindungi lah Kami!...