Terlatih Patah Hati

 Medan, 23 September 2021

Hari ketiga Isolasi Mandiri. Masih Batuk. Penciuman tidak kunjung berfungsi juga. 

Ada banyak hal yang kita inginkan dalam hidup ini. Ada banyak hal yang kita rencanakan. Dan ada banyak hal juga yang kita perjuangkan. Bahkan kita perjuangkan mati-matian. Dalam beberapa konteks, hal-hal tersebut berhasil kita dapatkan. Di lain waktu lagi, hal-hal yang sangat kita inginkan itu tidak pernah kita dapatkan sama sekali. Memang begitulah jalannya. Ada hal-hal yang memang ditakdirkan untuk kita. Ada hal-hal yang memang Allah tidak takdirkan untuk kita. Tak peduli sekeras apapun usaha kita, percuma. Kalau memang tidak ditakdirkan untuk kita. 

Di lain kasus, ada pula orang-orang yang membersamai kita bertahun-tahun, berpisah dengan kita. Ibu pergi ketika usiaku belum genap setahun. Jujur, waktu itu aku bahkan tidak sadar kalau ibuku meninggal. Bertahun-tahun mencoba memahami bagaimana rasanya punya ibu kandung, sampai sekarang aku masih gagal. Jadinya, aku tumbuh dan besar tanpa kasih sayang seorang Ibu yang melahirkan kita. Ayah juga meninggal ketika aku masih kelas 5 SD. Nyaris 2 tahun yang lalu. Waktu itu, aku sudah bisa memahami betapa sakitnya kehilangan. Terutama Ayah, yang juga merangkap sebagai Ibu bagiku, juga teman, guru, dan tentu saja sebagai ayah. Pada 2007 (Kelas 1 SMA), giliran nenek yang meninggal. Nenek, makhluk paling penyayang dan lembut di muka bumi. Delapan tahun kemudian (2013), giliran atok yang pergi. Kesedihan-kesedihan seperti ini sering kurasakan. Lalu dua minggu yang lalu Amangboru yang pergi. Susah untuk menjelaskan perpisahan-perpisahan itu. 

Soal kehilangan orang-orang tersayang ini. Aku sudah sangat terlatih patah hati. Tidak ada yang lebih mematahkan hati, selain kehilangan orang-orang yang kita cintai, dan juga mencintai kita. Baik karena tutup usia, maupun kita anggap sudah tidak ada lagi.

Riki Ananda Nasution

Comments

Popular posts from this blog

Orang-Orang Tersayang

Banyak Membaca

Penegakan Hukum dan Pendidikan