Ayam dan Kita

Catatan Malam Minggu
Catatan #1

19/12/2020


Ada obrolan menarik di tengah troubleshooting di tempat kerja.

Kiko: Bang, katanya ayam itu adalah makhluk yang bodoh ya?

Koki: Ya, kita memang harus kembali lagi ke ribuan tahun lalu. Ketika nenek moyang kita Manusia Pemburu Pengumpul secara tidak sadar mendomestikasi ayam-ayaman (dan hewan ternak lain yang saat itu masih liar). Di suatu lembah, ketika sekelompok ayam liar terpojok di sudut gua. Satu per satu ayam yang paling lincah disantap. Yang paling besar keingintahuannya dimakan. Maka tinggallah ayam-ayam yang paling malas bergerak, dan paling bodoh, kemudian dikembangbiakkan.

Kiko: Panjang kali jawaban Abang

Sebagian besar tugas membangun peradaban di muka bumi ini memang diambil alih oleh manusia. Yang sangat homocentris itu. Maka belum pernah kita dengar ayam yang membangun kerajaannya sendiri. Seperti Sunda Empire misalnya. Atau mungkin negeri dagelan Ayam. Juga tidak ada kriminalisasi terhadap ayam Jago. Oleh ayam-ayam Siam. Dan hebatnya lagi, di negeri ayam, Ayam Kampung lebih superior daripada ayam Eropa. secara naluriah. Ayam Eropa misalnya, bukanlah ayam penjajah. Dan juga bukan ayam pesepakbola yang tangguh. Sebaliknya ayam kampung adalah ayam yang sering mengirim signal untuk kita, signal untuk bangun dan sholat.

Volume otak ayam memang sangat kecil dibandingkan manusia. Maka dengan otak yang kecil ini, peranan ayam juga sangat sederhana dalam berbagi peran di muka bumi ini. Terutama sejak manusia berkuasa. Tugasnya hanya berkokok ketika pagi. Berkokok ketika lapar. Berkokok ketika makan. Dan berkokok ketika ingin berkokok saja. Otak ayam tidak didesain untuk pekerjaan yang berat. Merencanakan masa depan, mengingat sejarah, belajar matematika, atau bahkan berdebat dengan wanita sekalipun, ayam tidak sanggup. Tetapi kalau soal efisiensi dan efektivitas pemakaian otak, manusia bisa saja kalah dengan ayam.

Comments

Popular posts from this blog

Orang-Orang Tersayang

Banyak Membaca

Penegakan Hukum dan Pendidikan